Selasa, 07 Februari 2012

Ancaman Perang Iran dan Israel

HINGAR bingar ketegangan Barat dan Timur Tengah kian memanas. Bahkan kini saling ancam adu kekuatan militer alias perang.

Negara yang tengah siap-siap berperang adalah Iran dan Israel. Sebenarnya ini ketegangan kedua negara sudah lama terjadi dan kini bak bom waktu, yang bisa meledak kapan saja. Iran ditentang Israel lantaran proyek Nuklir Iran yang ditentang Israel.

Dua kapal tempur Iran juga sudah berada di Pelabuhan Jeddah, Arab Saudi pada pekan kemarin. Ratusan ribu roket Iran juga sudah menghadap ke Israel. Iran juga sudah mendapat dukungan dari sejumlah negara di Timur Tengah. Sebut saja Pakistan.

Selain itu, Iran "menggenggam" selat Hormuz yang menjadi urat nadi bagi harga minyak mentah dunia. Harga si emas hitam pun menguat tajam dan bergerak agresif akibat pergolakan politik kedua negara.

Sementara Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Leon Panetta memberikan sinyal bahwa Israel akan melancarkan serangan terhadap Iran sekira April-Mei 2012, meksi kemudian Panetta enggak berkomentar mengenai apa yang telah dilontarkan. Jika situasi semakin sulit, bukan tidak mungkin perang akan pecah.

Israel pun memiliki backing-an yang sangat berpengarung, Amerika Serikat.

Entah bagaimana, di saat situasi seperti ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memberikan sanksi kepada Bank Sentral Iran (CBI). AS membekukan aset Iran, karena Iran dianggapnya menentang pencucian uang. Bagi Obama hal ini dapat menimbulkan risiko bagi sistem keuangan internasional. Presiden Iran, Ahmadinejad pun belum pernah melontarkan soal yang satu ini.

Menghitung Untung Rugi

Jika ditelaah, benarkan situasinya sepanas itu? Sayangnya hubungan dagang kedua negara justru sebaliknya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tak kuasa membentengi pihak swasta untuk melakukan bisnis dengan Iran.

Ratusan pelaku bisnis hingga saat ini menjalin hubungan dagang dengan Negara Saudagar Minyak. Tidak ada sikap tegas dari Netanyahu. Tentunya ini sebuah anomali.

Sejumlah kalangan menduga, bahwa ketegangan ini sebenarnya hanya pentas belaka. Tujuannya untuk mempermaikan harga minyak. Soal benar atau salah, masih membuahkan tanda tanya.

Yang jelas, butuh tindakan tegas dari kalangan internasional agar keduanya bisa kembali akur. Soal gejolak politik, itu sudah biasa dalam sejarah dunia.

Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah, jangan sampai perang ini meluas dari perang fisik dan ekonomi. Sebab, efeknya sangat luas. Tidak hanya sipil yang dirugikan, namun juga anggaran keuangan banyak negara yang ikut bergejolak. Sebab, belum apa-apa saja harga minyak sudah demam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar